Pernahkah Anda menatap langit malam dan mendapati rembulan yang biasanya berwarna kuning pucat atau perak tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah? Fenomena ini sering disebut sebagai Blood Moon. Kehadirannya sering kali memicu berbagai reaksi, mulai dari decak kagum para fotografer hingga rasa merinding bagi mereka yang percaya pada mitos dan legenda kuno. Namun, di balik penampakannya yang misterius dan terkadang dianggap mencekam, ada penjelasan ilmiah yang luar biasa di baliknya. Mengapa bulan tidak menjadi gelap total saat gerhana, melainkan berubah warna menjadi merah? Apakah ini pertanda bencana atau sekadar tontonan alam biasa? Mari kita bedah tuntas misteri di balik Blood Moon.
Apa Itu Blood Moon?
Secara ilmiah, Blood Moon bukanlah istilah astronomi resmi. Para ilmuwan lebih mengenalnya dengan sebutan Gerhana Bulan Total. Fenomena ini terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi jatuh sepenuhnya ke permukaan Bulan. Normalnya, saat bayangan Bumi menutupi Bulan, kita mengharapkan Bulan akan menghilang sepenuhnya dari pandangan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: Bulan tetap terlihat namun dengan rona warna merah gelap, jingga, atau tembaga.
Rahasia di Balik Warna Merah: Hamburan Rayleigh
Alasan utama mengapa Bulan menjadi merah adalah karena atmosfer Bumi. Fenomena ini disebut dengan Hamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering). Fenomena inilah yang juga menyebabkan langit kita berwarna biru di siang hari dan berwarna kemerahan saat matahari terbenam. Begini cara kerjanya: pertama, atmosfer bertindak sebagai lensa. Saat gerhana bulan total terjadi, Bumi menghalangi sinar matahari langsung ke Bulan. Namun, atmosfer Bumi masih menangkap sebagian cahaya matahari di tepiannya. Kedua, terjadi penyaringan cahaya. Atmosfer Bumi bertindak seperti prisma. Cahaya matahari terdiri dari berbagai warna. Warna dengan panjang gelombang pendek, seperti biru dan ungu, akan dihamburkan ke segala arah oleh molekul udara. Ketiga, hanya warna merah yang lolos. Warna dengan panjang gelombang yang lebih panjang, seperti merah dan jingga, mampu menembus atmosfer Bumi tanpa banyak dihamburkan. Cahaya merah ini kemudian dibelokkan oleh atmosfer Bumi dan diarahkan tepat ke permukaan Bulan. Jika Anda berdiri di permukaan Bulan saat Blood Moon berlangsung, Anda akan melihat Bumi dikelilingi oleh cincin cahaya merah yang sangat terang. Cincin tersebut sebenarnya adalah cahaya dari seluruh matahari terbit dan matahari terbenam yang terjadi di seluruh penjuru Bumi pada saat yang bersamaan.
Baca juga : Serangan Siber Kian Kompleks, 72 Jam Pertama Jadi Penentu
Mengapa Kadang Warnanya Berbeda-beda?
Tidak semua Blood Moon memiliki tingkat kemerahan yang sama. Kadang warnanya terlihat oranye terang, cokelat gelap, atau bahkan hampir hitam hingga Bulan tidak terlihat sama sekali. Faktor yang memengaruhi adalah kondisi atmosfer Bumi. Debu dan polusi di udara dapat membuat warna merah pada Bulan terlihat lebih gelap. Selain itu, letusan gunung berapi juga berpengaruh. Jika baru saja terjadi letusan besar, partikel abu vulkanik yang melayang di stratosfer akan menghalangi lebih banyak cahaya, sehingga Bulan bisa tampak sangat gelap atau merah tua yang suram. Kelembapan udara dan tingkat awan juga memengaruhi seberapa jernih cahaya merah tersebut bisa mencapai permukaan Bulan.
Mitos dan Legenda: Mengapa Bikin Merinding?
Sepanjang sejarah manusia, Blood Moon sering dianggap sebagai pertanda buruk karena warnanya yang menyerupai darah. Masyarakat Inca di Amerika Selatan percaya bahwa warna merah pada bulan disebabkan oleh seekor jaguar raksasa yang sedang menyerang dan memakan Bulan. Mereka akan berteriak dan membuat kegaduhan agar jaguar tersebut pergi. Di Mesopotamia Kuno, gerhana bulan dianggap sebagai serangan langsung terhadap raja. Karena para astronom mereka sangat akurat dalam memprediksi gerhana, mereka akan memasang “raja pengganti” untuk sementara waktu guna menanggung nasib buruk, sementara raja yang asli bersembunyi. Sementara itu, sebagian masyarakat di Indonesia dulu percaya gerhana terjadi karena Bulan sedang ditelan oleh raksasa, sehingga mereka akan memukul lesung agar sang raksasa memuntahkan kembali rembulan.
Kapan Blood Moon Terjadi Lagi?
Gerhana bulan total tidak terjadi setiap bulan karena orbit Bulan yang sedikit miring terhadap orbit Bumi. Fenomena ini biasanya terjadi sekitar satu atau dua kali setahun. Untuk mengamati Blood Moon, Anda tidak memerlukan peralatan khusus seperti kacamata filter matahari. Gerhana bulan 100% aman dilihat dengan mata telanjang. Anda cukup mencari lokasi yang minim polusi cahaya untuk mendapatkan pemandangan terbaik.
Kesimpulan
Blood Moon adalah bukti betapa indahnya interaksi antara cahaya matahari, atmosfer Bumi, dan posisi benda langit. Warna merah yang terlihat mengerikan itu sebenarnya hanyalah pantulan dari keindahan matahari terbenam di seluruh dunia yang diproyeksikan ke permukaan rembulan. Jadi, alih-alih merinding, mari kita nikmati fenomena ini sebagai salah satu pertunjukan terbaik dari alam semesta.
Penulis : Ellisa
