Berdasarkan hadis sahih, Rasulullah SAW melaksanakan shalat gerhana dengan durasi yang sangat lama. Beliau melakukan rukuk dan sujud yang panjang, serta membaca surat-surat yang panjang pula.
“Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat hal tersebut, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam Shalat Gerhana, terdapat dua kali berdiri dan dua kali membaca Al-Fatihah serta surat dalam satu rakaat. Oleh karena itu, pemilihan surat menjadi aspek penting untuk mengikuti ittiba’ (meneladani) Rasulullah.
Baca Juga : Insider Threat: Risiko Internal yang Sering Terabaikan
2. Daftar Bacaan Surat yang Cocok Saat Shalat Gerhana Bulan
Untuk mencapai tingkat “afdol” atau keutamaan yang tinggi, para ulama menyarankan pembacaan surat-surat As-Sab’ut Tiwal (tujuh surat panjang) atau surat yang bertemakan kebesaran penciptaan alam semesta.
A. Rekomendasi Surat Panjang (Sesuai Sunnah Utama)
Jika Anda bertindak sebagai imam atau shalat sendiri dengan fisik yang kuat, berikut urutan yang dianjurkan:
- Rakaat Pertama (Berdiri Pertama): Surat Al-Baqarah. Rasulullah SAW pernah melakukan berdiri pertama yang lamanya kira-kira sepanjang bacaan Surat Al-Baqarah.
- Rakaat Pertama (Berdiri Kedua): Surat Ali ‘Imran. Setelah bangkit dari rukuk pertama, disunnahkan membaca surat yang lebih pendek sedikit dari yang pertama.
- Rakaat Kedua (Berdiri Ketiga): Surat An-Nisa.
- Rakaat Kedua (Berdiri Keempat): Surat Al-Ma’idah.
B. Rekomendasi Surat Bertema Kiamat dan Alam Semesta
Jika Surat Al-Baqarah dirasa terlalu panjang untuk jamaah umum, Anda bisa memilih surat yang memiliki korelasi makna dengan fenomena langit:
- Surat Yasin: Mengingatkan tentang peredaran bulan dan matahari pada garis edarnya.
- Surat Ar-Rahman: Mengingatkan nikmat Allah dan keteraturan alam semesta ($Sajadah$ dan $Qamar$).
- Surat Al-Qiyamah: Relevan karena menyebutkan peristiwa bulan yang hilang cahayanya atau dikumpulkan dengan matahari.
- Surat Al-Mulk: Mengagumi kesempurnaan ciptaan langit tanpa cacat.
3. Struktur Pembacaan Surat dalam Shalat Gerhana
Agar tidak bingung, berikut adalah tabel panduan porsi panjang pendeknya bacaan surat dalam tiap berdiri:
| Urutan Berdiri | Posisi | Durasi/Panjang Surat | Contoh Pilihan Surat (Alternatif Sedang) |
| Berdiri 1 | Rakaat 1 | Paling Panjang | Surat Al-Isra / Surat Al-Kahfi |
| Berdiri 2 | Rakaat 1 | Lebih Pendek dari Berdiri 1 | Surat Maryam / Surat Taha |
| Berdiri 3 | Rakaat 2 | Lebih Pendek dari Berdiri 2 | Surat Al-Anbiya / Surat Al-Hajj |
| Berdiri 4 | Rakaat 2 | Lebih Pendek dari Berdiri 3 | Surat Al-Furqan / Surat Asy-Syu’ara |
4. Tips Melaksanakan Shalat Gerhana Agar Khusyuk
Selain memilih Bacaan Surat yang Cocok Saat Shalat Gerhana Bulan Agar Lebih Afdol, perhatikan juga hal-hal teknis berikut:
- Suara Bacaan (Jahran): Berbeda dengan shalat gerhana matahari yang disunnahkan sirr (pelan), shalat gerhana bulan disunnahkan dibaca secara jahr (keras/lantang).
- Memperlama Rukuk dan Sujud: Durasi rukuk dan sujud disunnahkan hampir sama lamanya dengan durasi berdiri saat membaca surat.
- Mendengarkan Khutbah: Setelah shalat, disunnahkan bagi imam untuk memberikan khutbah singkat yang berisi anjuran bertaubat, bersedekah, dan berzikir.
- Memahami Makna: Sebelum shalat, bacalah terjemahan surat yang akan dibaca agar hati lebih tersentuh saat mendengar atau membacanya.
5. Bolehkah Menggunakan Surat Pendek?
Secara hukum asal, shalat gerhana tetap sah meskipun hanya membaca surat-surat pendek seperti Al-Ikhlas atau Al-Kautsar. Namun, keutamaan pahalanya tentu tidak sebesar jika membaca surat yang panjang. Jika Anda menjadi imam bagi jamaah yang sudah lanjut usia atau fisik lemah, pilihlah surat yang “pertengahan” (tidak terlalu panjang namun tetap memberikan nuansa pengagungan).
Kesimpulan
Memilih Bacaan Surat yang Cocok Saat Shalat Gerhana Bulan Agar Lebih Afdol adalah bentuk upaya kita menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Fenomena gerhana adalah pengingat akan kekuasaan Allah yang mutlak. Dengan bacaan yang panjang dan penuh penghayatan, diharapkan kita mendapatkan ampunan dan peningkatan iman setelah fenomena tersebut berakhir.
Emas dari ibadah ini bukanlah pada indahnya fenomena gerhana di langit, melainkan pada kembalinya hamba kepada Sang Pencipta melalui rukuk dan sujud yang panjang.
Penulis : Nabila
