Daftar Isi
- Filosofi Bendera Setengah Tiang dan Penghormatan Negara
- Profil Try Sutrisno: Dari Ajudan hingga Wakil Presiden
- Puncak Karier Militer dan Sipil
- Nilai-Nilai Nasionalisme yang Bisa Dipetik
- 1. Loyalitas yang Tegak Lurus pada Konstitusi
- 2. Kesederhanaan di Tengah Kekuasaan
- 3. Komitmen pada Persatuan Bangsa
- Relevansi Keteladanan Try Sutrisno di Era Gen Z dan Alpha
- Bendera Setengah Tiang sebagai Pengingat Estafet Perjuangan
- Penutup: Menjaga Api Nasionalisme
Simbolisme dalam sebuah negara sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata. Salah satu simbol yang paling menggetarkan jiwa adalah bendera setengah tiang. Secara universal, ini adalah tanda berkabung, sebuah penghormatan terakhir bagi putra-putra terbaik bangsa yang telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Namun, jika kita menggali lebih dalam, bendera setengah tiang bukan sekadar kain yang diturunkan posisinya; ia adalah refleksi dari dedikasi, pengorbanan, dan cinta tanah air yang tak terbatas.
Dalam konteks sejarah modern Indonesia, sosok Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, merupakan personifikasi dari nilai-nilai yang membuat bendera kita layak dikibarkan dengan penuh hormat. Belajar nasionalisme dari beliau berarti menyelami perjalanan hidup seorang prajurit yang setia, pejabat yang rendah hati, dan negarawan yang konsisten.
Filosofi Bendera Setengah Tiang dan Penghormatan Negara
Sebelum masuk ke dalam profil ketokohan, penting untuk memahami mengapa negara memberikan penghormatan setinggi ini kepada tokoh tertentu. Peraturan perundang-undangan di Indonesia mengatur bahwa bendera negara dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung nasional atas meninggalnya pemimpin atau tokoh bangsa yang dianggap berjasa besar.
Pengibaran ini adalah momen refleksi bagi seluruh rakyat. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk politik dan ekonomi untuk mengenang: Apa yang telah diberikan sosok ini bagi keberlangsungan Republik? Bagi Try Sutrisno, dedikasi tersebut telah dimulai sejak beliau masih sangat muda, merangkak dari bawah dalam struktur militer hingga mencapai puncak kepemimpinan nasional.
Profil Try Sutrisno: Dari Ajudan hingga Wakil Presiden
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno adalah produk dari zaman perjuangan. Ayahnya hanyalah seorang sopir ambulans, sebuah latar belakang yang membuktikan bahwa nasionalisme dan prestasi tidak memandang kasta sosial.
Perjalanan kariernya adalah contoh nyata dari meritokrasi dan loyalitas. Beliau dikenal luas sebagai sosok yang sangat disiplin. Namanya mulai dikenal publik secara luas saat terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1974. Posisi ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan sekolah kepemimpinan langsung dari pusat kekuasaan saat itu.
baca juga:ZeroDayRAT Dijual Bebas, Android dan iPhone Terancam
Puncak Karier Militer dan Sipil
Karier militer Try Sutrisno melesat karena integritasnya. Beliau pernah menjabat sebagai Pangdam Jaya, Kasad, hingga Panglima ABRI (sekarang TNI). Puncak pengabdian sipilnya terjadi ketika beliau terpilih menjadi Wakil Presiden RI periode 1993–1998.
Selama menjabat, beliau dikenal sebagai “Bapak yang Mengayomi”. Tidak banyak kontroversi yang mengelilinginya, karena beliau memegang teguh prinsip sepada-pada (kesederhanaan) dan loyalitas tunggal kepada negara.
Nilai-Nilai Nasionalisme yang Bisa Dipetik
Belajar nasionalisme dari Try Sutrisno bukan berarti kita semua harus menjadi tentara. Nasionalisme beliau bersifat substantif, yang dapat diterapkan oleh siapa saja dalam profesi apa pun.
1. Loyalitas yang Tegak Lurus pada Konstitusi
Bagi Try Sutrisno, loyalitas bukan berarti kepatuhan buta kepada personal, melainkan kepatuhan pada sistem dan stabilitas negara. Beliau menunjukkan bahwa menjadi orang nomor dua berarti mendukung kepemimpinan utama demi persatuan, tanpa ambisi pribadi yang merusak tatanan.
2. Kesederhanaan di Tengah Kekuasaan
Salah satu narasi yang paling sering muncul dari kerabat dan bawahan beliau adalah gaya hidupnya yang jauh dari kemewahan. Di era di mana kekuasaan sering identik dengan fasilitas, beliau tetap menjadi pribadi yang bersahaja. Ini adalah bentuk nasionalisme tertinggi: merasa cukup dengan apa yang diberikan negara dan tidak merampok hak rakyat melalui korupsi.
3. Komitmen pada Persatuan Bangsa
Sebagai mantan Panglima ABRI, beliau sangat memahami betapa rapuhnya keberagaman Indonesia jika tidak dijaga dengan rasa saling menghormati. Beliau selalu menekankan pentingnya Pancasila sebagai titik temu (kalimatun sawa) di tengah perbedaan suku dan agama.
Relevansi Keteladanan Try Sutrisno di Era Gen Z dan Alpha
Mungkin timbul pertanyaan, mengapa generasi muda yang hidup di era digital harus belajar dari sosok dari era Orde Baru? Jawabannya terletak pada karakter. Teknologi berubah, namun fondasi sebuah bangsa tetaplah karakter manusianya.
- Anti-Instan: Karier Try Sutrisno dibangun selama puluhan tahun. Beliau mengajarkan bahwa kesuksesan butuh proses, keringat, dan disiplin—sesuatu yang sering terlupakan di era serba cepat ini.
- Integritas Digital: Jika beliau hidup di era media sosial, beliau mungkin tidak akan menjadi sosok yang haus validasi atau sibuk melakukan personal branding yang palsu. Nasionalismenya adalah kerja nyata, bukan sekadar konten.
Bendera Setengah Tiang sebagai Pengingat Estafet Perjuangan
Setiap kali kita melihat bendera setengah tiang untuk menghormati tokoh bangsa seperti beliau, itu adalah alarm bagi kita yang masih hidup. Bendera itu bertanya kepada kita: Jika hari ini adalah hari terakhirmu, warisan apa yang kau tinggalkan untuk tanah air ini?
Try Sutrisno telah memberikan standar yang tinggi tentang apa artinya menjadi seorang abdi negara. Beliau membuktikan bahwa militer bisa menjadi sangat humanis, dan penguasa bisa menjadi sangat rendah hati.
Penutup: Menjaga Api Nasionalisme
Menghormati sosok seperti Try Sutrisno tidak cukup hanya dengan upacara atau pengibaran bendera. Nasionalisme yang sesungguhnya adalah dengan mempraktikkan nilai-nilai yang beliau anut dalam kehidupan sehari-hari. Jujur dalam bekerja, setia pada pasangan dan keluarga, serta selalu mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
penulis:septa
