DFD untuk Skripsi? Ini Contoh dan Tipsnya!

Views: 14

Buat kamu yang sedang menyusun skripsi, khususnya di jurusan Sistem Informasi, Teknik Informatika, atau Ilmu Komputer, pasti familiar dengan yang namanya DFD alias Data Flow Diagram. Diagram ini sering muncul di bab perancangan sistem dan bisa jadi penentu apakah skripsimu lolos revisi atau malah balik lagi ke dosen pembimbing.

Tapi tenang, kamu nggak sendirian kok kalau merasa bingung bikin DFD yang sesuai standar. Karena faktanya, banyak mahasiswa yang kesulitan menyusun DFD dengan benar—entah karena belum paham alurnya, belum tahu simbolnya, atau bingung mau mulai dari mana.

Nah, biar kamu nggak salah langkah dan bisa bikin DFD yang rapi serta memukau pembimbing, yuk simak penjelasan lengkapnya berikut ini. Kita bakal bahas apa itu DFD, contoh sederhananya, serta tips-tips praktis untuk skripsimu!

Baca juga : Disiplin Kerja = Karier Naik Cepat, Setuju?


Sebenarnya, Apa Itu DFD dan Fungsinya di Skripsi?

DFD atau Data Flow Diagram adalah diagram yang digunakan untuk menggambarkan alur data dalam sebuah sistem secara visual. Lewat DFD, kamu bisa menunjukkan bagaimana data masuk ke sistem, bagaimana diproses, disimpan, dan dikirim kembali ke pengguna atau sistem lain.

Dalam konteks skripsi, DFD biasanya digunakan untuk:

  • Menjelaskan alur logis sistem yang kamu rancang.
  • Menunjukkan pemahamanmu terhadap kebutuhan sistem.
  • Menjadi acuan dalam implementasi sistem di bab selanjutnya.

DFD biasanya dimasukkan di Bab 4 (Perancangan Sistem) dan menjadi satu paket dengan flowchart, ERD (Entity Relationship Diagram), serta rancangan tampilan sistem.


DFD Ada Levelnya? Mana yang Harus Dicantumkan di Skripsi?

Nah, ini yang sering bikin bingung mahasiswa: “DFD itu harus Level 0 aja, atau sampai Level 1 dan 2 sekalian?”

Idealnya, dalam skripsi kamu mencantumkan minimal:

  1. DFD Level 0 (Diagram Konteks)
    Untuk menunjukkan gambaran umum sistem secara global. Hanya menampilkan satu proses utama dan hubungan dengan entitas luar (misalnya, admin, pelanggan, atau sistem lain).
  2. DFD Level 1
    Untuk memecah proses utama menjadi beberapa sub-proses yang lebih detail. Di sini mulai ditampilkan data store dan alur data yang lebih kompleks.

Kalau sistemmu cukup besar dan proses di Level 1 masih kurang menjelaskan, kamu bisa tambahkan DFD Level 2 untuk menjabarkan proses tertentu secara lebih mendalam. Tapi ini bersifat opsional, tergantung kompleksitas sistem dan permintaan dosen pembimbingmu.


Seperti Apa Contoh DFD Skripsi yang Baik?

Agar kamu makin kebayang, berikut gambaran umum contoh DFD untuk sistem pemesanan makanan online:

DFD Level 0 – Diagram Konteks:

  • Entitas Eksternal: Pelanggan, Admin
  • Proses utama: Sistem Pemesanan
  • Alur Data:
    • Pelanggan → Data Pesanan → Sistem Pemesanan
    • Sistem Pemesanan → Struk Pemesanan → Pelanggan
    • Admin → Data Menu → Sistem Pemesanan

DFD Level 1 – Detail Proses:

Proses utama dipecah menjadi:

  • 1.0 Input Pesanan
  • 2.0 Cek Ketersediaan Menu
  • 3.0 Proses Pembayaran
  • 4.0 Cetak Struk

Data Store:

  • Data Menu
  • Data Transaksi
  • Data Pelanggan

Setiap proses akan punya alur masuk dan keluar yang jelas dari entitas atau data store.


Bagaimana Cara Bikin DFD yang Disukai Dosen Pembimbing?

Kamu nggak perlu jadi jago desain buat bikin DFD yang bagus. Yang penting, kamu paham alur sistem dan menyusunnya dengan logis. Berikut tips-tips simpel tapi ampuh:

1. Pahami Studi Kasus Skripsimu

Jangan langsung bikin DFD tanpa tahu alur proses dalam sistem. Pelajari dulu bagaimana data bergerak dari satu proses ke proses lain.

2. Gunakan Simbol Sesuai Standar

  • Entitas Eksternal: kotak
  • Proses: lingkaran atau oval
  • Data Store: dua garis sejajar atau bentuk menyerupai tabung
  • Alur Data: panah

3. Konsisten Dalam Penamaan

Gunakan nama proses yang deskriptif, misalnya “Validasi Login”, bukan cuma “Proses 1”. Ini akan memudahkan dosen memahami maksudmu.

4. Gunakan Tools Digital

Kamu bisa pakai tools gratis seperti draw.io, Lucidchart, atau software diagram lainnya agar hasilnya lebih rapi dan profesional.

5. Review DFD-mu Berkali-kali

Pastikan tidak ada alur data yang tiba-tiba muncul atau hilang. DFD yang baik harus punya alur logis, lengkap, dan terhubung dengan elemen lain secara benar.


DFD Udah Jadi, Lalu Apa?

Setelah kamu selesai membuat DFD, jangan langsung tutup laptop. Lakukan pengecekan akhir, seperti:

  • Apakah semua entitas eksternal sudah dimasukkan?
  • Apakah proses sudah mencerminkan fungsi-fungsi utama sistem?
  • Apakah alur data tidak berantakan atau tumpang tindih?
  • Apakah penomoran proses logis dan konsisten?

Kalau sudah yakin, kamu tinggal tambahkan penjelasan singkat tiap diagram di naskah skripsimu agar pembaca (termasuk dosen penguji) bisa memahami alur tanpa harus menebak-nebak.

Baca juga : Wisuda Periode I 2025 Universitas Teknokrat: Cetak Generasi Siap Sambut Indonesia Emas


Kesimpulan: Kuasai DFD, Lolos Sidang Lebih Mudah

DFD bukan sekadar gambar panah dan lingkaran, tapi representasi logika dari sistem yang kamu rancang. Dengan DFD yang baik, kamu bisa menunjukkan bahwa kamu benar-benar paham sistemmu—dan ini bisa jadi nilai plus saat seminar atau sidang skripsi.

Penulis : helen putri marsela

Views: 14
DFD untuk Skripsi? Ini Contoh dan Tipsnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top