Cara Bikin DFD dan ERD Tanpa Pusing

Views: 5

Bagi mahasiswa IT atau calon programmer, dua istilah ini pasti sering terdengar: DFD (Data Flow Diagram) dan ERD (Entity Relationship Diagram). Sekilas, keduanya tampak seperti tugas rumit yang hanya bikin kepala pening. Padahal, kalau tahu triknya, bikin DFD dan ERD bisa jadi semudah menggambar alur cerita.

Di dunia pengembangan sistem, DFD dan ERD adalah alat bantu visual untuk menjelaskan bagaimana sistem bekerja—mulai dari alur data sampai hubungan antar data. Dan kabar baiknya, kamu nggak perlu jadi jenius desain buat bisa bikin diagram yang jelas dan berguna.

baca juga : Bangun PC Impian dengan Budget Terbatas? Ini Triknya!


Sebenarnya, Apa Itu DFD dan ERD?

Sebelum masuk ke cara membuatnya, yuk kita pahami dulu pengertiannya secara simpel.

  • DFD (Data Flow Diagram) adalah diagram yang menggambarkan alur data dalam sebuah sistem. Di dalamnya ada proses, entitas eksternal, data store, dan aliran data. Tujuannya untuk menjelaskan bagaimana data masuk, diproses, dan keluar dari sistem.
  • ERD (Entity Relationship Diagram) adalah diagram yang menggambarkan hubungan antar entitas data dalam suatu sistem. ERD digunakan untuk perancangan database, agar relasi antar data tersusun rapi.

Dua diagram ini jadi andalan banyak analis dan developer karena bisa menyampaikan konsep sistem secara visual tanpa ribet jelasin panjang lebar.


Kenapa Banyak yang Bingung Saat Membuatnya?

Pertanyaan ini wajar banget. Banyak mahasiswa atau pemula merasa pusing karena beberapa alasan berikut:

  • Bingung mulai dari mana: apakah bikin DFD dulu atau ERD dulu?
  • Takut salah simbol: lingkaran itu proses atau entitas?
  • Belum terbiasa mikir secara sistematis.

Tapi tenang. Kunci utamanya adalah memahami alur dan struktur sistem yang ingin dibuat. Bukan sekadar gambar-gambar, tapi pemahaman logika di baliknya.


Mulai dari Mana Kalau Mau Bikin DFD dan ERD?

1. Pahami Kebutuhan Sistem

Sebelum mulai menggambar, pastikan kamu benar-benar paham sistem yang akan kamu buat. Tanyakan hal-hal berikut:

  • Siapa saja penggunanya?
  • Data apa yang masuk dan keluar?
  • Proses apa saja yang terjadi?

Contoh: Sistem peminjaman buku di perpustakaan. Ada pengguna, buku, petugas, dan transaksi peminjaman. Ini jadi bahan awal untuk membuat diagram.

2. Identifikasi Komponen Penting

Untuk DFD, kamu perlu mengidentifikasi:

  • Entitas eksternal (misalnya: anggota, petugas)
  • Proses (misalnya: peminjaman, pengembalian)
  • Data store (misalnya: database buku, database anggota)
  • Data flow (aliran data dari satu komponen ke lainnya)

Untuk ERD, fokus pada:

  • Entitas (misalnya: Buku, Anggota, Transaksi)
  • Atribut (misalnya: nama_buku, id_anggota)
  • Relasi antar entitas (misalnya: satu anggota bisa meminjam banyak buku)

Apa Trik Agar Membuatnya Jadi Lebih Gampang?

Berikut beberapa trik simpel yang bisa kamu terapkan:

1. Gambar Kasar di Kertas

Jangan langsung ke software. Gambar dulu sketsa kasar di kertas agar kamu bisa eksplorasi tanpa takut salah. Setelah itu baru pindah ke aplikasi seperti Draw.io, Lucidchart, atau lainnya.

2. Mulai dari Umum ke Detail

Jangan langsung mikirin setiap alur atau relasi. Buat kerangka besarnya dulu. Misalnya di DFD, gambar proses utama dulu, baru rincikan alur data antar komponen.

3. Gunakan Simbol Standar

Biar nggak membingungkan, pastikan kamu pakai simbol standar:

  • DFD: lingkaran (proses), kotak (entitas eksternal), dua garis paralel (data store), panah (alur data)
  • ERD: persegi panjang (entitas), elips (atribut), garis dan simbol crow’s foot (relasi)

4. Validasi dengan Studi Kasus

Coba terapkan ke studi kasus sederhana, misalnya sistem kasir, sistem booking online, atau manajemen gudang. Kalau kamu bisa buat DFD dan ERD untuk skenario itu, berarti kamu sudah cukup paham konsepnya.


Bagaimana Mengetahui DFD dan ERD Sudah Benar?

DFD dan ERD yang baik harus:

  • Mudah dibaca dan dipahami oleh orang lain.
  • Konsisten antara proses dan data.
  • Tidak terlalu kompleks, hindari menjejalkan semua proses dalam satu level.
  • Menggambarkan realitas sistem, bukan khayalan.

Coba presentasikan diagrammu ke teman satu tim. Kalau mereka langsung paham alur sistemnya, berarti kamu sudah berada di jalur yang benar.

baca juga : Universitas Teknokrat Indonesia Raih Prestasi World University Rangking for Innovation 2025


Jadi, Bikin DFD dan ERD Nggak Sesulit Itu, Kan?

Jelas tidak. Asal kamu tahu logikanya dan sering latihan, semua akan terasa lebih mudah. DFD dan ERD bukan sekadar tugas kuliah, tapi bekal penting untuk masuk ke dunia kerja, terutama jika kamu bercita-cita menjadi system analyst, backend developer, atau database engineer.

Ingat, membuat diagram itu bukan soal menggambar yang bagus. Tapi soal mewakili sistem yang rumit menjadi visual yang mudah dipahami. Dan kalau kamu sudah menguasai ini, kamu sudah satu langkah lebih dekat menjadi programmer andal.

penulis : elsandria

Views: 5
Cara Bikin DFD dan ERD Tanpa Pusing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top